Minggu, 08 Juni 2014

Efek Kesehatan Gigi

BAB 1
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Rongga mulut merupakan pintu gerbang tubuh. Setiap waktu tak terhitung mikroorganisme yang melewati rongga mulut. Hal ini terjadi terus menerus tanpa mengalami banyak gangguan karena adanya pengaruh saliva. Rongga mulut juga merupakan bagian saluran cerna dengan biologi yang unik, terdiri atas jaringan lunak dan keras seperti tubuh lainnya. Dalam rongga mulut ini juga terdapat kelainan-kelainan, salah satunya yaitu bau mulut atau halitosis (Roeslan, 1999).
Bau mulut yang bersumber dari mulut merupakan faktor yang disebabkan oleh bakteri dan protein yang ada pada semua orang, oleh karena itu pada dasarnya bau mulut adalah masalah semua orang, hanya tingkat keparahan yang berbeda-beda, ada yang mempunyai bau mulut ringan sehingga sama sekali tidak mengganggu orang-orang di sekitarnya, sementara yang mempunyai kondisi halitosis berat sangat mengganggu orang lain sehingga dapat mempengaruhi rasa percaya diri (Widiati, 2003).
Kondisi gigi yang tidak bersih maupun gigi yang berlubang merupakan tempat yang dapat menjadi media pertumbuhan bakteri anaerob gram negatif, di samping sisa makanan itu juga mengalami pembusukan ( Wibosono, 2002). Hasil  Penelitian menunjukan, hampir 85-95 % bau mulut bersumber adanya kelainan di rongga mulut, baik gigi yang berlubang maupun infeksi jaringan penyangga (Fahrudin, 2002).
Jurnal healt to day mengatakan, plak merupakan penyebab kerusakan gigi. Plak dan sisa makanan yang melekat di gigi secara bertahap akan diubah menjadi asam oleh bakteri. Jika plak dan sisa makanan tersebut dibiarkan terlalu lama dipermukaan gigi atau tidak segera dibersihkan dan ditambah lagi dengan adanya air liur, plak beserta sisa-sisa makanan menumpuk yang lama kelamaan akan mengeras sehingga berubah menjadi karang gigi yang mempunyai permukaan kasar sehingga memudahkan kotoran-kotoran menempel (Ita, 2002).
Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan mineral. Bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk mengobatan berdasarkan pengalaman. Bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibanding dari bahan yang dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional hampir selalu identik dengan tanaman obat. Dari masa ke masa obat tradisional mengalami perkembangan yang semakin meningkat karena mudah ditemui dan harganya dapat dijangkau oleh semua lapisan masarakat.
Tanaman teh juga salah satu tanaman yang dijadikan obat tradisional. Di seluruh pelosok Indonesia aneka produk bisa dijumpai sehari-hari. Teh bisa diminum panas atau dingin sebagai minuman penyegar atau obat. Banyak pula yang mencampurkan dengan bahan-bahan tertentu untuk mengobati berbagai penyakit (Nazarudin, 1996).
Salah satu gangguan pada mulut adalah bau mulut. Biasanya berbagai cara dilakukan untuk menghilangkannya. Mulai pengobatan tradisional yang menggunakan berbagai ramuan. Para peneliti dari Lembaga Perlindungan Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan di Belanda menemukan bahwa di dalam teh, terdapat zat yang bernama katekin yang dapat menghambat perkembangan bakteri penyebab napas berbau tidak sedap. Minuman teh dengan kekentalan normal, cukup untuk membunuh bakteri pada lidah (Okie,  2008).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian diatas, maka perumusan masalah ini adalah bagaimanakah mekanisme teh hijau (ryokucha) untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus?
C. Tujuan
 1.   Umum    :   Untuk mengetahui mekanisme teh hijau dalam menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
     2.    Khusus   :    Untuk mengetahui perbandingan antara teh apa yang paling banyak kandungan zat yang berkhasiat untuk menghilangkan halitosis.
D.  Manfaat
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat antara lain:
1.      Bagi Penulis
Agar dapat menambah pengetahuan tentang mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Bahan masukan bagi institusi pendidikan dalam kontribusi teh sebagai salah satu obat tradisional bau mulut ke dalam kurikulum mata kuliah bagi mahasiswa Politeknik Kesehatan Pontianak Jurusan Kesehatan Gigi.
3.      Bagi Ilmu Pengetahuan
Segala masukan serta referensi bagi penelti lebih lanjut yang berkaitan dengan mekanisme teh untuk menghilangkan halitosis.
E.     Ruang Lingkup
1.      Lingkup Keilmuan
Studi pustaka ini merupakan bidang ilmu obat kedokteran gigi.
2.  Lingkup Masalah
            Lingkup masalah ini ditekan pada mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
3.  Lingkup Metode
Jenis studi pustaka ini adalah bersifat membaca dan mengumpulkan referensi dari buku, majalah, tabloid, dan internet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Teh
            Kata teh berasal dari Cina yaitu teh dengan istilah tay. Bahasa latinnya Camelia sinensis. Hingga sekarang teh sudah banyak dikenal sampai ke seluruh negara. Ada beberapa klasifikasi tanaman teh menurut Nazarudin (1996) yaitu :
>   Divisi                  :   Spermatophyta
>   Sub divisi            :   Angiospermae
>   Kelas                   :   Dicotyledon
>   Famili                  :   Theaceae
>   Genus                  :   Camellia
>   Species                :   Camellia sinensis
1.  Ciri-Ciri Teh
             Menurut Nazarudin (1996) ada beberapa ciri-ciri teh yaitu tanaman teh berbentuk pohon. Tingginya bisa mencapai belasan meter. Namun tanaman teh di perkebunan selalu dipangkas untuk memudahkan memetiknya, sehingga tingginya 90- 120 cm.
Mahkota teh berbentuk kerucut. Daunnya berbentuk jorong atau agak bulat telur terbalik. Tepi daun bergerigi. Daun tunggal dan letaknya hampir berseling. Tulang daun menyisip. Permukaan daun atas muda berbulu halus, sedangkan permukaan bawahnya hanya sedikit, dan permukaan daun halus tidak berbulu lagi.
Bunga tunggal dan ada yang tersusun dalam rangkaian kecil. Bunga muncul dari ketiak daun. Warnanya putih bersih berbau wangi lembut. Namun ada bunga yang berwarna semu merah jambu. Mahkota bunga berjumlah 5- 6 helai. Putik dengan tangkai yang panjang atau pendek dan pada kepalanya terdapat tiga buah sirip. Jumlah benang sari 100- 200 helai.
Buah teh berupa buah berupa kotak berwarna kecoklatan. Dalam satu buah berisi satu sampai enam biji, rata-rata tiga biji. Buah yang masak dan kering akan akan pecah dengan sendirinya serta bijinya ikut keluar. Bijinya berbentuk bulat atau gepeng pasa satu sisinya. Berwarna putih sewaktu masih muda dan berubah menjadi kecoklatan setelah tua.
Akar teh berupa akar tunggal dan mempunyai banyak akar cabang. Apabila akar tunggalnya putus, akar-akar cabang akan menggantikan fungsinya dengan arah tumbuh yang semula melintang menjadi ke bawah, dan juga akar bisa tumbuh besar dan cukup dalam.
2.  Jenis-Jenis Teh
               Ada beberapa jenis teh menurut  Hollenberg (2008) yaitu sebagai berikut
a Teh hijau : Bahannya berasal dari pucuk daun teh yang sebelumnya mengalami pemanasan dengan uap air untuk menoaktifkan enzim yang terdapat dalam daun teh. Selanjutnya digulung dan dikeringkan. Teh hijau diproduksi dengan cara penguapan (steaming) daun teh pada suhu tinggi sehingga kandungan katekin dapat dipertahankan. Kandungan katekin pada teh hijau mencapai 30-42%.
    b Teh putih : Untuk membuat teh putih diperlukan daun teh yang paling muda, yang masih dipenuhi bulu putih pedek atau bulu halus. Proses pemasakannya mengalami 2 tahap, yaitu penguapan dan pengeringan.  Tidak ada proses pelayuan, penggilingan, atau fermentasi (kadang kala difermentasi juga dengan kadar ringan). Tampilan teh putih nyaris tak berubah, yaitu berwarna putih keperakan. Ketika diseduh akan berwarna kuning pucat dengan aroma lembut dan segar. Kandungan katekin pada teh putih sekitar 22-25%.
    c Teh oolong : terbuat dari daun teh yang lebih besar dan lebih tua. Setelah dipetik langsug dijemur untuk pelayuan. Tujuan pelayuan untuk menurunkan kadar air dan membuat lebih lembut. Kemudian daun diaduk-aduk atau dikocok untuk menghilangkan pinggiran daun. Tahap berikutnya ditebar dan dikeringkan, dilakukan beulang kali. Tampilan teh oolong, bagian tepi daun teh akan berwarna merah karena fermentasi dan bagian tengah tetap berwarna hijau. Kandungan katekin pada teh oolong sekitar 15-19% (Gede, 2006).
    d Teh hitam : Daun yang sudah dipetik, kemudian dijemur 12-18 jam. Dilanjutkan dengan proses fermentasi secara penuh. Warna daun teh menjadi hitam dan beraroma khas. Daun teh yang mengitam ini kemudian digiling dan selanjutnya masih difermentasi di dalam ruangan dingin dan lembab. Melalui proses ini, teh yang dihasilkan dapat lebih banyak. Sebagian besar teh yang beredar di pasaran adalah teh hitam. Teh hitam sebenarnya mengandung katekin, namun tidak banyak. Hal ini karena adanya proses fermentasi pada pembuatan teh hitam yang dapat merusak kandungan katekin. Kandungan katekin pada teh hitam hanya sekitar 7-10% (Hollenberg, 2008).
3.  Teh Hijau (Ryokucha)
Teh hijau (ryokucha) adalah teh yang sangat umum di China. Teh hijau adalah terpilih dari daun teh kelas atas yang disebut tencha. Teh dinamakan gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai aroma yang sangat harum. Teh hijau berkualitas tinggi yang digiling menjadi bubuk teh (Hanzi, 2009).
4.  Kandungan dan Kegunaan Teh Hijau
     Menurut Khomsan (2008) teh hijau mempunyai kandungan dan kegunaan sebagai berikut :
- Polipenol (katekin) yang terdapat dalam teh hijau adalah bahan sangat bermanfaat bagi kesehatan, yaitu mampu mengurangi risiko penyakit jantung, membunuh sel tumor, dan menghambat pertumbuhan sel kanker paru-paru, kanker usus terutama sel kanker kulit. Zat ini dapat membantu kelancaran proses pencernaan makanan melalui stimulasi peristalsis, produksi cairan pencernaan, menghambat pertumbuhan plak, dan menghilangkan bau mulut.
 -  Fluor adalah tergolong sebagai mineral yang dapat mencegah radang gusi, dan gigi berlubang.
- Mangan yang terdapat pada teh hijau dapat membantu penguraian gula menjadi energi sehingga membantu menjaga kestabilan kadar gula dalam darah.
  - Kafein yang terkandung dalam teh hijau berbeda dengan kafein yang terkandung dalam kopi. Pada teh hanya terkandung kafein sebanyak 3 - 5%. Jadi jika kita rajin minum teh, maka tubuh dan pikiran akan terasa lebih segar. Kafein berpengaruh positif pada aktivitas mental, dan dapat memperbaiki proses pencernaan makanan dalam lambung.
B.  Halitosis
  1. Pengertian Halitosis
Halitosis berasal dari kata “halitos” yang berarti  nafas dan “osis” yang berati kondisi tidak normal, berarti halitosis adalah bau nafas yang tidak sedap. Sekarang ini istilah halitosis telah digunakan secara bersama untuk menyatakan bau nafas yang tidak sedap, bahkan halitosis    banyak dikenal dan dipergunakan (Haskell & Gayford, 1979).
Pada tahun 70-an dengan dipelopori oleh Dr Joseph Tonzetich dari Departement of Oral Biology, Fatulty of Dentistry, University of British Columbia Vancouver Canada, dilakukan penelitian yang mendalam untuk mengetahui sebenarnya penyebab nafas yang tak sedap pada seseorang. Dr Tonzetich dan kawan-kawan berhasil mendeteksi bahwa adanya sesuatu senyawa yang berbau yang keluar dari mulut seorang mengidap bau mulut (Djaya, 2001).
Halitosis telah menjadi masalah yang mengkhawatirkan selama berabad-abad, hal ini dapat diketaui dari tulisan-tulisan Romawi kuno. Sejak tahun 1550 BC orang Mesir telah menganjurkan untuk mengatasi nafas tak sedap dengan cara mengunyah bahan yang baunya wangi seperti mellburry, myrrh (sejenis rempah-rempah), atau karet dari pohon mastik.
Jaman dahulu seorang pejabat romawi telah memberikan pernyataan bahwa nafas seseorang akan menjadi bau karena makanan yang tidak baik, karena gigi yang jelek, atau bahkan meningkatnya usia seseorang. Demikian pula Hipokrates yang lebih dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran, 460-337 BC, telah membahas tentang diagnosa dan perawatan bau mulut. Hipokrates menjelaskan adanya hubungan antara penyakit gusi dan bau mulut. Jika gusi menjadi sehat kembali bau mulut akan hilang. Sir William Osler 90 tahun yang lalu, dokter Kanada yang terkenal juga menyatakan bahwa deteksi mau mulut dapat merupakan indikator yang baik dari penyakit-penyakit mulut dan penyakit-penyakit sistemik tertentu (Djaya, 2001).
Pengertian tentang suatu bau yang tercium adalah sangat berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Seseorang tidak keberatan bau dari anggota keluarganya seperti istri dan anak karena hal itu dapat memberikan ciri khas tersendiri. Seseorang sering pula tidak dapat merasakan baunya sediri karena telah terbiasa, seperti halitosis, ini terjadi karena adanya efek ”adaptasi” dimana karena bau tersebut menjadi ada dan terpapar terus-menerus, menyebabkan syaraf olfactorius menjadi teradaptasi sehingga tidak disadari lagi adanya bau.
Menurut Fahrudin (2002) pada umumnya halitosis bisa dialami oleh semua orang, pria-wanita, besar-kecil, tua-muda, bayi ataupun lanjut usia walaupun hanya sehari. Bau tersebut bisa bersifat sementara bisa berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Tingkat baunya bermacam-macam, mulai dari yang ringan sampai yang berat.
Meskipun biasanya orang menyebut  bau mulut tak sedap, namun sebenarnya sumber bau mulut itu tidak hanya dari rongga mulut saja, tetapi juga bisa dari rongga hidung, paru-paru dan lain-lain.
Tetapi bila orang yang bersangkutan itu sediri mempunyai syaraf-syaraf pembauannya rusak, maka ia tidak mengetahui kalau bau mulutnya berbau. Jadi hanya orang lain yang berada di depannya saja yang bisa tau. Tidak ada penyakitpun hanya dari mulut bisa berbau, karena makan-makanan yang berbau merangsang atau karena obat-obatan  yang diminum, bahkan mulut kering karena pernapasan melalui mulut yang terus-menerus juga menimbulkan halitosis. Halitosis disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari mulut,sebab-sebab sistemik atau kelainan pada daerah nasofaringeal (Djaya, 2001).
2.  Faktor-Faktor Penyebab Halitosis
a.  Faktor lokal
Menurut Djaya (2002) di dalam rongga mulut mempunyai peranan besar terhadap terjadinya halitosis, dan banyak sekali berpendapat bahwa di dalam mulut mikroorganisme yang membentuk flora normal mulut. Jutaan koloni berbagai jenis bakteri di dalam rongga mulut yang berguna untuk membantu pencernaan makanan.
Di dalam rongga mulut juga terdapat gigi yang mempunyai pengaruh terhadap halitosis seperti kebersihannya dan kesehatannya, jaringan penyangganya (periodontium). Terdapat juga jaringan lunak mulut seperti gingiva, mukosa serta lidah.beberapa faktor penyebab halitosis dari halitosis dari rongga mulut :
                  -  Lidah
Berdasarkan studi yang dilakukan menyatakan bahwa permukaan lidah bagian paling belakang lidah merupakan sumber utamanya terjadinya halitosis. Lidah mempunyai tonjolan-tonjolan halus pada papilla-papila pada seluruh permukaannya, terdapat tiga jenis papila yang terbesar pada tempat-tempat tertentu dimana panjang-pendeknya papilla ini bervariasi pada setiap individu. Permukaan lidah merupakan tempat utama aktivitas serta berkembang biaknya bakteri. Daerah-daerah di antara papila-papila serta dasar lidah tersebut merupakan tempat paling disukai oleh bakteri khusus bakteri-bakteri anaerob. Disamping itu permukaan lidah seperti halnya permukaan gigi juga dapat tertutup oleh plak yang merupakan lapisan tipis seperti film berasal dari sisa-sisa makanan terutama bagian posterior. Oleh karena itu membersihkan lidah sangatlah penting khususnya dalam mencegah halitosis (Dyaja,2001).
       -  Ludah
Ludah atau saliva mempunyai peranan penting terhadap terjadinya halitosis yaitu adanya suatu aktivitas pembusukan oleh bakteri yaitu adanya degradasi protein menjadi asam amino oleh mikroorganisme (Djaya, 2001).
                   -  Stomatitis
Stomatitis yaitu radang pada selaput lendir mulut. Salah satu jenis  stomatitis yang amat jahat yaitu adalah jenis noma, stomatitis yang berbau busuk (Djaya, 2001).
                   -  Karies gigi
 Karies gigi adalah suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email,  dentin dan sementum yang  disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Jika dibiarkan lama kelamaan gigi akan membusuk dan menimbulkan bau mulut (Ginting, 1985).
    -  Karang gigi / kalkulus
Karang gigi atau kalkulus adalah suatu endapan keras yang melekat pada permukaan gigi. Karena gigi mempunyai permukaan yang kasar  sehingga sisa-sisa makanan dan air ludah melekat pada permukaan gigi dan menimbulkan bau mulut. Penyebab timbulnya karang gigi adalah karena penimbunan lapisan mineral pada gigi yang berbatasan dengan gusi, dan dapat menimbulkan gangguan gigi serta gusi (Ginting,1985).
                   -  Periodontitis
Radang sekitar gigi ini dapat timbul karena adanya ransangan plak dan kalkulus yang menyebabkan pembengkakan jaringan gusi dan terjadi poket atau yang lebih dalam dari normal yang selanjutnya menjadi bertambah dalam diakibatkan adanya kerusakan serat-serat periodontal dan tulang-tulang alveolar (Ginting, 1985).
    -  Sisa akar gigi
Seandainya kalau karies gigi dibiarkan semakin lama semakin besar dan akhirnya gigi hancur semua, akhirnya di dalam tulang hanya tertinggal sisa akar membusuk (Ginting, 1985).
                   -  Pemakaian protesa atau gigi palsu
Pemakaian gigi palsu yang tak terawat menimbulkan bau mulut yang tidak sedap karena tidak dijaga kebersihannya, terutama gigi tiruan, sekarang ini telah jarang dibuat dan hampir selalu berbau tidak sedap (Yuwono, 1989).
b.  Faktor umum
                 Yaitu penyebab halitosis yang berasal dari selain dalam rongga mulut :
                 -  Rokok/Perokok
Yaitu bau dan rasa dari mulut seorang perokok cukup khas yang biasanya dapat ditentukan apakah pasien merokok sigaret, cerutu atau dengan pipa. Pasien yang menghembuskan nafas berarti mengeluarkan bau dari paru-paru. Bronkus, mulut, hidung dan sinus paranasal, meningkatkan sekresi mukosa dapat memperburuk bau tersebut (Irawati, 2005).
  -  Diet
Salah satunya diet juga dapat menimbulkan halitosis, makanan yang digoreng juga dapat melimbulkan bau mulut bahkan setelah gigi di bersihkan. Kopi juga dapat mempunyai yang khas, tetapi bau hilang setelah dilakukan penyikatan gigi (Temmy, 2002)
  -  Kelainan rongga tenggorokan atau nasoparing
>Pharingitis yaitu radang selaput lender tenggorokan (Irawati, 2005).
>Sinus paranasal, yaitu sinus yang mengalami radang dan   menguarkan nanah sehingga menimbulkan bau (Djaya, 2001).
>Tonsilitis akut, dimana tonsil membengkak, dan mengandung nanah sehingga menimbulkan bau (Djaya, 2001).
>Rinitis yaitu peradangan mukosa fosa nasali terutama rhinitis atrofi (ozaena) yaitu mukosa hidung menjadi sklerotik, fosa nasal tersumbat oleh krusta yang menghasilkan bau mulut yang busuk (Irawati, 2005).
                 -  Penyakit ginjal kronis
Dalam rongga mulut biasanya berbau kurang sedap pada penyakit penyakit ginjal kronis dengan lidah yang kering dan berubah warna. Urea dikeluarkan melalui kelenjar ludah bila pasien mengalami uremia yang parah dan bau mulut berbau urine (Irawati, 2005).
                 -  Keadaan hepatikum
Keadaan hepatikum ini terdapat pada fungsi hati yang sangat akut dan dapat dianggap sebagai tanda kemungkinan terjadinya koma. Bila pasien belum berada pada keadaan yang sangat akut, bau mulut pasien yang hepatikum yang sering disebut dalam sejumlah istilah, seperti bau kayu lapuk, tikus, dan bahkan bau bangkai segar (Yuwono, 1989).
  -  Paru-paru dan bronkus
Penyakit paru-paru dan bronkus dapat berupa abses, kavitas dan daerah-daeah strategi dapat memperburuk bau mulut. Keadaan seperti bronkiektasis, abses paru-paru, enpyema, dan keadaan lain yang dapat menimbulkan pembusukan kavita paru-paru dapat menimbulkan halitosis (Yuwono, 1989).
C.  Karang Gigi
Karang gigi adalah bakterial plak yang mengalami endapan keras/mineralisasi, dapat terbentuk pada semua permukaan gigi dan celah gigi yang berwarna mulai kekuning-kuningan, kecoklat-loklatan, kehijau-hijauan sampai kehitam-hitaman dan mempunyai permukaan yang kasar. Oleh karena karang gigi yaitu endapan keras dari plak, maka terbentuknya adalah berdasarkan perkembangan dari plak oleh karena itu plak harus ada untuk terbentuknya karang gigi. Untuk mengontrol karang gigi harus dimulai dengan plak kontrol (Sunaryo, 1984).
Teori pembentukan karang gigi sangat bervariasi, tetapi pada umumnya para ahli berpendapat bahwa antara plak dan karang gigi terdapat hubungan yang erat sekali, sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, tinggal terlalu lama pada permukaan gigi yang akan mengeras menjadi karang gigi. Penyebab ini berasal dari pengendapan bahan-bahan kasar, air ludah dan serum darah, akibat adanya suatu peradangan. Karang gigi mempunyai permukaan kasar sehingga sisa-sisa makanan dan air ludah melekat pada permukaan gigi tersebut. Selanjutnya karang gigi akan terus terbentuk dan bertambah banyak sehingga dapat menutupi sebagian permukaan gigi dan dapat juga dipermukaan akar gigi dibawah tepi gusi (Djuita, 1995).
  1. Klasifikasi Karang Gigi / Kalkulus
Berdasarkan hubungan terhadap gingiva margin, karang gigi dibagi dalam
a)  Supra gingival kalkulus
                 Melekat disebelah korona dari crest gingiva margin dan dapat dilihat. Warnanya putih kekuningan atau putih keabuan, klasifikasinya terganyung pada mineral-mineral yang terdapat didalam saliva dan lebih banyak terdapat di daerah tempat berkumpulnya saliva; misalnya pada daerah lingual gigi daerah anterior bawah, dan permukaan bukal gigi-gigi molar rahang atas. Supragingival kalkulus mempunyai konsentrasi seperti tanah liat, warnanya dapat dipengaruhi oleh pigmentasi yang berasal dari tembakau, makanan atau metabolisme bakteri. Pada kasus-kasus yang eksterim kalkulus dapat membentuk menutupi permukaan oklusi gigi yang tidak berfungsi (Sunaryo, 1984).
b)  Subgingival kalkulus
                  Melekat disebelah apikal dari crest gingiva margin di dalam sulkus gingiva dan poket, tidak terlihat pada pemeriksaan. Untuk menentukan adanya subgingiva kalkulus digunakan sonde. Konsentrasinya padat dan keras, warnanya coklat tua atau hijau kehitam-hitaman. Bayangan warna ini dapat terlihat berupa warna gelap membayang disekitar gingival margin. Klasifikasinya sebagian besar berasal dari mineral-mineral yang terdapat didalam gingival (Sunaryo, 1984).
     2.  Komposisi Karang Gigi
           Komposisi karang gigi bervariasi sesuai dengan lamanya pembentukan. Terdiri dari 80% masa anorganik, air dan matrik organik dari protein dan karbohidrat. Fraksi anorganik terutama dari fosfat kalsium, dalam bentuk hidroksid apatid, brushide, whitlockite, dan fosfat oktakalsium. Selain itu juga terdapat sejumlah kecil kalsium karbonat, magnesium fosfat, dan fluor. Kandungan fluor dari karang gigi adalah beberapa kali lebih besar dari pada di dalam plak (Manson, 1993).
BAB III
KERANGKA TEORI
A.  Landasan Teori
      Teh hijau mengandung zat aktif bernama katekin yang dapat membunuh bakteri di mulut, dapat menahan proses pembentukan plak gigi. Tidak hanya menghalangi tapi justru membunuh bateri pembentuk plak dan karang gigi sehingga tidak terjadinya bau mulut dengan mekanisme menghambat radikal bebas.
B.  Kerangka Konsep



 
C.  Definisi Operasional
            Mekanisme atau cara kerja zat aktif (katekin) yang terkandung di dalam teh  hijau yang dapat membunuh bakteri dalam mulut dan menghambat pertumbuhan plak sehingga tidak terjadinya suatu endapan keras yang melekat pada permukaan gigi (karang gigi) yang menyebabkan bau mulut.
 
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
          Rancangan penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan suatu keadaan yang dibahas berdasarkan metode studi kepustakaan dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku, makalah ilmiah, serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
B. Pelaksanaan Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan penelaahan kepustakaan (library research) yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca dan mempelajari buku-buku literatur, laporan-laporan, serta makalah ilmiah lainnya yang kemudian dibahas berdasarkan teori-teori yang ditemukan, sehingga dapat menciptakan pemahaman serta diperoleh arah dan hasil penelitian yang tepat dan relevan.
 
BAB V
PEMBAHASAN
Sekresi saliva berkaitan erat dengan kesehatan rongga mulut, terutama berhubungan dengan pembentukan pada plak, plak adalah Plak gigi adalah lapisan lembut yang terbentuk dari campuran antara makrofag, leukosit, enzim, komponen anorganik, matriks ekstraseluler, epitel rongga mulut yang mengalami deskuamasi, sisa-sisa makanan serta bakteri yang melekat di permukaan gigi. Bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak gigi adalah bakteri dari genus Streptococcus, yaitu bakteri Streptococcus mutans (Maulani, 2006).
Jika plak tidak segera dibersihkan maka dapat menimbulkan karang gigi. Pembentukan karang gigi dimulai dengan pengendapan garam kalsium fosfat yang dapat terjadi apabila lingkungannya mempuyai ph tinggi yang basa, sehingga plak dan sisa-sisa makanan menempel pada permukaannya. Akibat adanya pengendapan kalsium fosfat dalam lingkungan basa dapat memudahkan bakteri dalam menghasilkan amoniak yang mengandung uriase. Hasil dari metabolisme bakteri ini berupa gas atau senyawa sulful yang mudah menguap sehingga dapat menyebabkan bau mulut (Wibisono, 2002).
Adanya senyawa sulfur yang mudah menguap atau Volatile sulful Compounds (VSC), merupakan unsur utama penyebab halitosis. VSC adalah hasil aktifitas bakteri-bakteri anaerob di dalam mulut berupa senyawa yang berbau tidak sedap dan mudah menguap hingga menimbulkan bau yang tercium oleh orang lain disekitarnya. Aktifitasnya di dalam mulut bakteri anaerob bereaksi dengan protein-protein yang ada, protein di dalam mulut dapat diperoleh dari sisa-sisa makanan yang mengandung protein, sel-sel darah yang telah mati, bakteri-bakteri yang telah mati ataupun sel-sel epitel yang terkelupas dari mukosa mulut. (Djaya, 2002).
Di dalam mulut normal diperkirakan rata-rata terdapat sekitar 400 macam bakteri dengan berbagai tipe. Meskipun penyebab bau mulut belum diketahui dengan jelas, kebanyakan dari bau tersebut berasal dari sisa makanan di dalam mulut. Masalah akan muncul bila sebagian bakteri berkembang biak. Kebanyakan dari bakteri ini bermukim di leher gigi bersatu dengan plak dan karang gigi, selain itu di balik lidah juga ada karena daerah tersebut merupakan daerah yang aman dari kegiatan mulut sehari-hari. Bakteri tersebut memproduksi toksin atau racun, dengan cara menguraikan sisa makanan dan sel-sel mati yang terdapat di dalam mulut. Racun inilah yang menyebabkan bau mulut pada saat bernafas karena hasil metabolisme proses anaerob pada saat penguraian sisa makanan tersebut menghasilkan senyawa sulfide dan ammonia (Vyati, 2009).
Upaya pencegahan lebih banyak ditujukan untuk mengurangi terjadinya penumpukan plak yang berlebihan di dalam rongga mulut. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan teh hijau (ryokucha) (Hattori & Sakanaka, 1998). Teh hijau mengandung zat aktif bernama katekin yang dapat membunuh bakteri di mulut, sekaligus menghilangkan gula dari plak dan menghilangkan bakteri penyebab napas berbau. Minumlah 2 sampai 5 cangkir teh hijau sehari (Johnson, 2009).
Teh hijau memiliki kandungan katekin yang tinggi karena pada pembuatan teh hijau tidak melibatkan proses fermentasi yang merupakan oksidasi polifenol (katekin). Oleh karena itu teh hijau yang kaya akan kandungan katekin yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri pembentuk plak. Sedangkan pada teh hitam, kandungan katekin sangat rendah karena pada proses pembuatannya melibatkan proses fermentasi yang merupakan proses oksidasi polifenol (katekin) (Khamson, 2008).
Para ahli yang meneliti daun teh hijau sepakat, bahwa teh hijau mengandung senyawa-senyawa bermanfaat. Salah satu kandungan teh hijau yaitu senyawa substansi fenol yaitu katekin. Kandungan katekin dalam teh hijau adalah 30-42% berat kering daun teh hijau, meski total kandungannya bervariasi tergantung lokasi tumbuh, musim, intensitas cahaya dan ketinggian tempat  (Hollenberg, 2008).
Teh hijau mengandung 30-42% polifenol yang sebagian besar dikenal sebagai katekin. Katekin adalah antioksidan yang sangat kuat, lebih kuat dari vitamin E, C dan 0-karoten. Senyawa katekin yang terkandung didalam teh hijau yaitu :
- epitekin (EC)
- epikatekin galat (ECG)
- epigallokatekin (EGC)
- epigallokatekin galat (EGCG)
.Dari  keempat komponen katekin teh tersebut, EGCG merupakan komponen utama yang paling potensial. Salah satu fungsi utama dari EGCG adalah sebagai antioksidan, dengan mekanisme menghambat radikal bebas yang terjadi di dalam lingkungan sehingga menghambat reaksi berantai yang dapat menyebabkan kerusakan oksidatif bagi struktur mikroorganisme salah satunya bakteri dari genus Streptococcus, yaitu bakteri Streptococcus mutans. Selain sebagai antioksidan, EGCG juga berfungsi sebagai antimikroba, antimutagenik dan antikarsinogenik (Wulandari, 2008).
Katekin yang terkandung di dalam teh hijau dengan konsentrasi tinggi, memiliki kemampuan untuk mengurangi pembentukan plak gigi dengan membunuh bakteri penyebab (Streptococcus mutans) dan menghambat aktivitas enzim glikosiltransferase (GTF) dari bakteri tersebut. Enzim GFT ini mengubah sukrosa menjadi glukan yang merupakan penyebab pembentukan plak gigi. Berdasarkan pengaruh katekin terhadap plak gigi, hasilnya menunjukan bahwa jumlah bakteri (Streptococcus mutans) berkurang sehingga pembentukan plak gigi pun berkurang (Hattori & Sakanaka, 1998).
Selain itu hasil juga menunjukan bahwa antioksidan, dengan mekanisme dari katekin bisa menghambat reaksi berantai sehingga tidak terjadi senyawa belerang yang terbentuk dalam mulut seperti metil mercaptan dan beberapa sulfid (VSC) sebagai hasil penguraian protein oleh enzim dan bakteri (Wulandari, 2008).


BAB VI
PENUTUP
A.  Kesimpulan
       Dari sisa-sisa makanan yang mengandung protein dan kumpulan bakteri yang melekat pada permukaan gigi terjadi plak gigi. Jika plak tidak segera dibersihkan maka dapat menimbulkan karang gigi, Karang gigi inilah salah satu yang dapat menyebabkan bau mulut.
        Katekin yang terkandung di dalam teh memiliki kemampuan untuk menghambat proses pembentuk plak gigi. Selain itu dapat membunuh bakteri di dalam mulut dan menghilangkan gula dari plak.
B.  Saran
Penulis juga mengharapkan agar pembaca untuk minum teh hijau 2 sampai 5 cangkir sehari. Karena teh hijau mengandung zat aktif (katekin) yang mampu menehan proses pembentukan plak yang berhubungan juga dengan pembentukan karang gigi.
Penulis mengharapkan kepada pembaca untuk lebih pemperhatikan kebersihan gigi dan mulutnya dengan cara mengontrol plak agar tidak menumpuk yang mengakibatkan terjadinya karang gigi, terlebih adanya karang gigi sebaiknya segera dibersihkan supaya tidak menimbulkan bau mulut, karena karang gigi juga dapat menyebabkan bau mulut disertai dengan adanya senyawa sulfur yang mudah menguap.








DAFTAR PUSTAKA
Djaya, A, 2001
               Halitosis. Klinik Indonesia : Jakarta. Hal 3-14
Djuita, I, 1995
               Spesifik Protektion. Buku Kedokteran:Bandung. Hal 27-28
             
Fahrudin, D, 2002.
               Bau Mulut. http//:www.Astaga.Com.
Ginting, B, 1985
               Mulut Sehat Gigi Kuat, Publicing House : Bandung. Hal 11-13
Gede, A, 2006
  Mengenal Ragam Dan Manfaat Teh.http//www.Anekaplanta.wordpress.Com.
Hanzi, 2009
              Teh hijau. http://id.wikipedia.org/wiki.com.
Haskel. R, & Gayford.J.J, 1979
               Penyakit Mulut, Buku Kedokteran:Jakarta. Hal 177-178
Hattori & Sakanaka, 1998
              Senyawa Katekin The.http://www.m3undip.org//artikel.htm.

Efek Global Terhadap Pendidikan

    BAB I
    PENDAHULUAN
   
    1.1 Latar Belakang
    Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat dihindari kehadirannya, terutama dalam bidang pendidikan.
    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri.
    `           Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapat menikmati program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanah air diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam jurang kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak diredam dari sekarang.
    
    1.2  Rumusan Masalah
    Secara umum, rumusan masalah  pada makalah “Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan” ini dapat dirumuskan seperti pada pertanyaan berikut.
    a.        Apa dampak dari globalisasi untuk  dunia pendidikan?
    b.      Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi?
    c.       Cara penyesuan pendidikan di Indonesia pada era globalisasi?
    
    1.3  Tujuan
    1.      Bagi Penulis
    Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dalam mata kuliah pengantar pendidikan. Selain itu, bagi diri kami pribadi makalah ini juga diharapkan bisa digunakan untuk menambah pengetahuan yang lebih bagi mahasiswa, baik dalam lingkup universitas negeri malang maupun di civitas akademika yang lain.
    2.     Bagi Pembaca
    Makalah ini dimaksudkan untuk membahas dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan dan menambah ilmu pengetahuan mengenai globalisasi. Para pembaca yang dominan dari kaula mahasiswa bisa digunakan untuk langkah menuju ke pengetahuan yang lebih luas, sehingga kedepannya tercipta sdm-sdm yang unggul.
    3.   Bagi Masyarakat
    Diharapkan masyarakat bisa lebih memahami tentang arti penting globalisasi sehingga dampak negatif yang berimbas bisa leih diperkecil. Dan juga diharapkan agar realisasi kegiatan positif terhadap adanya pendidikan semakin lebih baik.
    
    BAB II
    PEMBAHASAN
    
    
    2.1  Pengaruh  Globalisasi terhadap dunia Pendidikan
          Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
          Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, menimbulkan
    Dampak positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poin-poin berikut:
    
    1.      Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    
    Pengajaran Interaktif Multimedia
                Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer. Apabila dulu, guru menulis dengan sebatang kapur, sesekali membuat gambar sederhana atau menggunakan suara-suara dan sarana sederhana lainnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang sudah ada computer. Sehingga tulisan, film, suara, music, gambar hidup, dapat digabungkan menjadi suatu proses komunikasi.
                Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat mengubah bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang bagaimana daya dapat mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia, para siswa mungkin tidak langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi mendengar tak seefektif melihat. Levie dan Levie (1975) dalam Arsyad (2005) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus kata, visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dengan konsep.
    Perubahan Corak Pendidikan
                Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis. Sekolah-sekolah atau satuan pendidikan berhak mengatur kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan karakteristik sekolahnya. Kemudahan Dalam Mengakses Informasi Dalam dunia pendidikan, teknologi hasil dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing riset antarsiswa terutama dengan mereka yang berjuauhan tempat tinggalnya.
                Pembelajaran Berorientasikan Kepada Siswa Dulu, kurikulum terutama didasarkan pada tingkat kemajuan sang guru. Tetapi sekarang, kurikulum didasarkan pada tingkat kemajuan siswa. KBK yang dicanangkan pemerintah tahun 2004 merupakan langkah awal pemerintah dalam mengikutsertakan secara aktif siswa terhadap pelajaran di kelas yang kemudian disusul dengan KTSP yang didasarkan pada tingkat satuan pendidikan. Di dalam kelas, siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar-mengajar. Dulu, hanya guru yang memegang otoritas kelas. Berpidato di depan kelas. Sedangkan siswa hanya mendngarkan dan mencatat. Tetapi sekarang siswa berhak mengungkapkan ide-idenya melalui presentasi. Disamping itu, siswa tidak hanya bisa menghafal tetapi juga mampu menemukan konsep-konsep, dan fakta sendiri.
     2. Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    
    Komersialisasi Pendidikan
                Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan. Salah satu ciri utamanya ialah semangat menguji murid ala Victoria yang bisa menyenangkan Mr. Gradgrind dalam karya Dickens. Perusahaan-perusahaan ini harus membuktikan bahwa mereka memberikan hasil, bukan hanya bagi murid, tapi juga pemegang saham.(John Micklethwait, 2007:166). .
    
    Bahaya Dunia Maya
    Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet. Contohnya, 6 Oktober 2009 lalu diberitakan salah seorang siswi SMA di Jawa Timur pergi meninggalkan sekolah demi menemui seorang lelaki yang dia kenal melalui situs pertemanan “facebook”. Hal ini sangat berbahaya pada proses belajar mengajar.
    Ketergantungan
                Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti computer dan internet dapat menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa terkesan tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat tersebut.
    
    
    2.2 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia
    2.2.1 Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik
                Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan,

sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek.
            Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor modern diisi orang-orang awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu terjun ke sektor modern.

2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan
            Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.
            Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melempar tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas.
            Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sector yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).
            Koordinator LSM Education network foa Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan miskin.
            Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut.
Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun golongan.

2.2.3 Kualitas SDM yang Rendah
            Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian pun sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan India, sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi, pendidikan yang rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal. India dapat menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar Internasional.
Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1. berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar 218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan keguruan.
Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal.

2.3  Penyesuaian Pendidikan Indonesia di Era Globalisasi
Dari beberapa takaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap menghadapi globalisasi. Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu saja dalam arus global tersebut. Kita harus menyadari bahwa Indonesia masih dalam masa transisi dan memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan peran dalam globalisasi khususnya pada konteks regional. Inilah salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan. Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuat kita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini, kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.


    BAB III
      PENUTUP
    

    3.1 Kesimpulan
                Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia
    Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    Pengajaran Interaktif Multimedia
    Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer.
    Perubahan Corak Pendidikan, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan.
    Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    Komersialisasi Pendidikan
                Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan.
    Bahaya Dunia Maya
                Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet.
    Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi di indonesia adalah Mahalnya Biaya Pendidikan, Kualitas SDM yang Rendah dan fasilitas pendidikan ang kurang, itu yang mengakibatkan pendidikan tidak berjalan dengan lancar
    Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu
    
    3.2 Saran
    Penulis memberikan saran yang ditujukan untuk
    a.       Masyarakat
    agar para orang tua memperhatikan kepentingan anaknya dalam hal pendidikan sehingga pendidikan berjalan dengan lancar
    b.      Pemerintah
    Pemerintah harus menggarkan danan yang cukup untuk keperluan pendidikan dan menambah beasiswa bagi guru untuk training


    DAFTAR PUSTAKA

    Asri B. 2008.  Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta.
    Faizah, F. 2009.  Dampak Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan, (Online), (http://www.blogger.com/profile/14458280955885383127), diakses 18 Oktober 2011.
    Munir.  2010.  Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota IKPI.
    Surya,  M. 2002.  Dasar-dasar Kependidikan di SD. Pusat penerbitan Universitas Terbuka. Suryabrata, S. 2010. Psikologi Kepribadian.  Jakarta: Rajawali Pers.
    Januar, I. 2006. Globalisasi pendidikan dI indonesia, (Online),                     (www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=mygroup&gid=340151), diakses 18                   Oktober  2011.
    Wardoyo, C. 2007. Urgensi Pendidikan Moral (Online), (http://www.nu.or.i) diakses 18 oktober              2011.